Revitalisasi KKN (Pengabdian Sejak Mahasiswa)*

Posted: November 19, 2011 in my article

KKN, kata-kata ini tak sama artinya dengan berita-berita yang santer terdengar di telinga khalayak ramai, melainkan sebuah bentuk aplikasi dari teori-teori yang dipelajari di setiap perguruan tinggi di Indonesia sekaligus suatu ranah pengabdian yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, ya itulah Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Program ini dipelopori oleh Prof. Dr. H. Koesnadi Hardjasoemantri, SH ML (baca: guru besar UGM) pada saat beliau mahasiswa dengan program pengerahan tenaga mahasiswa ke daerah-daerah terpencil pada akhir 1950-an. Dan secara institusi institusi resmi dimulai di UGM pada tahun 1971 dan diberlakukan sampai sekarang. Namun sebuah program yang menurut ideal penulis harus ada di setiap perguruan tinggi, akhir-akhir ini seakan tak pernah didengung-didengungkan di benak seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), bahkan ada mahasiswa yang tak pernah sama sekali mengenal kepanjangan lain dari KKN selain “Korupsi, Kolusi dan Nepotisme” yang kian marak terjadi di Negeri Ibu Pertiwi. Sebuah program yang sangat membangun dari civitas akademika sebagai suatu wujud dedikasi kemahasiswaan.
Program Berharga
Tidak hanya sebagai sebuah aplikasi teori-teori teks book, namun program ini akan sangat membantu masyarakat desa. Tentunya program ini sangat mungkin menghasilkan problem solver atas masalah yang sering terjadi di lingkungan masyarakat sekitar. Dengan daya imajinasi seorang mahasiswa yang dilengkapi dengan kreatifitas dan inovasinya, bukan tidak mungkin masalah seperti sulitnya hidup di desa bisa diatasi dengan konsep pemikiran yang dipelajari di perguruan tinggi ataupun imajinasi baru yang akan diramu oleh mahasiswa. Ini sangat efektif dilakukan melihat kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tertinggal dan terisolir di Indonesia. Selain itu, program ini tentunya juga akan membuka mata dan telinga mahasiswa sekarang yang cenderung menghamba pada kemewahan, pragmatis dan apatis akan penderitaan dan teriakan rakyat-rakyat desa yang semakin merana.
Kenyataan atas ketidakberlakuannya KKN di USU tentu merupakan sebuah langkah yang memprihatinkan, dimana universitas-universitas terbaik di Indonesiapun masih memandang ini sebagai hal yang perlu, dengan wujud nyatanya masih mengirimkan mahasiswanya ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Ini bisa kita lihat dari mahasiswa Universitas Indonesia yang melakukan KKN di Raja Ampat, Papua (Kompas, 11/7).

Daerah Tertinggal di SUMUT
Tanpa kita sadari ternyata masih banyak daerah di SUMUT yang masih tertinggal dan terisolir. Ketika penulis melakukan suatu Pengabdian Masyarakat Desa bersama Ikatan Mahasiswa Simalungun (IMAS) di akhir 2010 lalu di desa Marjandi Dolok, Kab. Simalungun, penulis mendapati daerah tersebut masih sangat tertinggal dimana belum tersedianya aliran listrik didaerah ini, suatu pemandangan ironis setelah puluhan tahun kemerdekaan Indonesia. Penulis juga mendapati akses jalan yang rusak parah menuju desa, diperparah lagi dengan angkutan menuju dan keluar desa yang hanya 1 kali setiap minggunya, yang tentunya membuat desa ini sungguh terisolir dari segi informasi. Juga sulitnya sumber air, sehingga warga harus berjalan sampai 1 km untuk aktivitas mencuci, mandi, atau buang hajat, karena memang belum tersedianya jamban di rumah-rumah warga. Mungkin ini bisa menjadi suatu potret atas daerah yang penulis yakini masih banyak di daerah Sumatera Utara khususnya, atau bahkan masih ada warga yang merasakan penderitaan yan lebih besar dari daerah ini ??
Sebuah Solusi
Program ini bisa menjadi salah satu solusi konkret pembangunan desa tertinggal. Bisa dibayangkan ketika mahasiswa dari berbagai jurusan dengan kompetensinya masing-masing bergabung menjadi satu di suatu desa. Dalam konteks kesehatan tentunya masyarakat bisa mendapatkan pengobatan dan penyuluhan untuk hidup sehat yang mungkin tak pernah didapatinya selama hidupnya. Dalam konteks pertanian tentunya permasalahan pertanian yang sering menimpa petani desa bisa diatasi oleh pengetahuan mahasiswa pertanian yang selama ini dipelajari. Atau mahasiswa ekonomi yang bisa memberikan pengetahuan pengelolaan koperasi yang bisa sangat membantu untuk sumber permodalan di desa-desa dimana permasalahan rentenir sangat sering ditemui di tempat ini.
Revitalisasi Kuliah Kerja Nyata sangat diperlukan untuk masa sekarang ini, implementasinya tentu mempunyai banyak manfaat untuk mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah maupun perguruan tinggi, karena pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata mempunyai makna personality development, Institutional development, dan community development. Dan yang terpenting KKN mampu menanamkan sebuah ilmu agar terbentuknya sikap dan rasa cinta kepedulian sosial, serta tanggung jawab mahasiswa terhadap kemajuan pola pikir masyarakat pada umumnya dan anak-anak khususnya, demi kebangkitan Bangsa bernegara yang hidup makmur dan sejahtera.
*Dika Nivardo Sinaga
Penulis adalah Mahasiswa Akuntansi USU dan divisi Tri Darma IMAS-USU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s